Selengkapnya klik link berikut
http://www.4shared.com/zip/1Bm2-9Tk/Materi_4__Dimensi_Tiga_.html
Sabtu, 12 Mei 2012
Kamis, 10 Mei 2012
IQ, EQ, SQ, and AQ
IQ, EQ, AND SQ
Kecerdasan ialah istilah umum yang
digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan
masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.
Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau
kapasitas mental dalam berpikir,
namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg&
Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan
dan adaptif.
Saat ini cukup popular tentang tiga kecerdasan
manusia, yaitu Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan
Spiritual. Tapi Kecerdasan Adversitas? Dalam buku sumber yang penulis gunakan
sebagai rujukan tulisan ini –buku yang didapatkan dari seorang sahabat penulis
yang baik hati, Bapak Kusmayanto Kadiman, terdapat banyak sekali wawasan dan
pemahaman baru yang sangat menarik untuk dinikmati.
Intellgence Quotient (IQ) adalah ukuran kemampuan
intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini
berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan
sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita
untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan
latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam
proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta
memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari
semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.
Emosional Quotient (EQ) mempunyai dua arah dan dua
dimensi, arah ke dalam (personal) berarti sebuah kesadaran diri (self
awareness), penerimaan diri (self acceptance), dan hormat diri (self respect),
dan penguasaan diri (self mastery) dan arah keluar (interpersonal) berarti
kemampuan memahami orang (to understand others), menerima orang (to accept
others), mempercayai orang (to trust others), dan mempengaruhi orang (to
influence others).
Spiritual Quotient (SQ) intinya adalah transendensi,
yaitu proses penyeberangan, pelampauan, penembusan makna yang lazim, khususnya
dari wilayah material ke wilayah spiritual, dan dari bentuk yang kasar ke
bentuk yang sublime. Dalam hal ini hidup bukan semata-mata untuk memperoleh
materi semata akan tetapi harus betul-betul dihayati sebagai serangkaian amal
bagi sesama manusia dan beribadah kepada Tuhan. Sehingga tidak cukup jika kita
hanya mengandalkan kecerdasan intelegensi dan emosional saja. Mempertebal iman
dan taqwa kita akan membangun budi dan akhlak mulia sehingga segala sesuatu
yang kita lakukan semata-mata mohon perkenan dan ridho Tuhan, sehingga apa yang
kita kerjakan akan terasa bermakna, nikmat, dan kita lakukan penuh dengan suka
cita, tanpa keterpaksaan belaka.
Nah, yang terakhir adalah Adversitas Quotient (AQ), pernah
dengar? Menurut kamus adversity berarti kemalangan, kesulitan, dan penderitaan.
AQ disini adalah kecerdasan kita pada saat menghadapi segala kesulitan
tersebut. Beberapa orang mencoba untuk tetap bertahan menghadapinya, sebagian
lagi mudah takluk dan menyerah. Dengan demikian kecerdasan adversitas adalah
sebuah daya kecerdasan budi-akhlak-iman manusia menundukkan
tantangan-tantangannya, menekuk kesulitan-kesulitannya, dan meringkus
masalah-masalahnya sekaligus mengambil keuntungan dari kemenangan-kemenangan
itu.
Ingin sukses dan berhasil? Cukup cerdaskah saya,
anda, kita?
![]() |
| Kondisi Otak berdasarkan IQ, EQ, SQ |
PATERN OF STUDENT CREATIVITY
![]() |
| Tangram Bujur Sangkar |
PENDAHULUAN
Dalam proses pembelajaran matematika di sekolah terdapat
beberapa permasalahan. Terkait dengan karakteristik matematika, objeknya yang abstrak, konsep dan
prinsipnya berjenjang, dan prosedur pengerjaannya yang
banyak memanipulasi bentuk-bentuk membuat siswa seringkali mengalami kesulitan.
Hal ini menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep
yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya
belajar siswa, serta mengatasi keterbatasan yang ada pada guru.
Menurut Sierwalds ( dalam Davasligil,
2005 )
dalam belajar jangka
panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang
tidak bersekolah. Kegiatan belajar
mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba,
dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses
diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan hasil belajarnya menjadi lebih
baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan
suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari aktivitas yang harus
diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan hasil belajar yang
optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran.
Pentingnya suatu penggunaan strategi pembelajaran dalam
kegiatan belajar mengajar, sehingga perlunya adanya suatu strategi pembelajaran
yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu
strategi yang sesuai yaitu Pembelajaran patern of student creativity yang dapat memberikan pembelajaran bermakna dan efektif
bagi siswa, serta dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas
siswa, dengan bimbingan guru sehingga hasil belajar siswa akan lebih baik dan
optimal.
STRATEGI PATERN STUDENT OF CREATIVITY
Adapun tahapan strategi
patern of student creativity adalah sebagai berikut :
1) Interaksi : Memudahkan interaksi guru dan peserta didik maupun antar peserta
didik
2) VariasiKerjaPesertaDidik :memungkinkanpesertadidikbekerjasecara,
perorangan,
berpasangan , ataupunkelompok.
3) Aktivitas
:suatu proses kegiatan yang meliputi kegiatan yang bersifat fisik
maupun
mental.dimana menurut
Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007)
aktivitas siswa dalam belajar
digolongkan atas 8 kelompok.
4) Kreativitas:suatu proses
yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan
(fleksibilitas) dan originalitas
dalam berfiir (Munandar, 1977).
5) Bimbingan
: Kegiatan bimbingan ini dilakukan oleh guru, dimana guru
akan meberikan bimbingan
baik secara individu maupun secara klasikal
selama kegiatan belajar mengajar
berlangsung.
PENUTUP
Dengan lembar kreativitas ini diharapkan,
guru mampu menciptakan suatu suasana pembelajaran yang terdapat kreativitas,
dan dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas
siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa
dan menghilangkan kejemuan saat belajar matematika. Juga sebagai motivasi meningkatkan kemampuan yang bervariasi yang
dapat juga dugunakan sebagai media atau alat peraga bantu, dimana pembelajaran
tidak lagi secara buku teks saja tetapi lebih kearah media yang penuh
kreativitas yang dilengkapi dengan gambar dan format yang jelas serta
mengandung pola-pola kreativitas.
![]() |
| Tangram Hati |
"PIKAT" STRATEGY
From : Tesis FX. Didik Purwosetiyono, S.Pd., M.Pd.
by : Frans X Didik Eternity
A. Tahapan Penerapan
Strategi PIKAT/ Sintaks Strategi PIKAT ( Pembelajaran Inkuiri Kreatif Aktif Terbimbing )
Lebih menekankan pada strategi pengaturan ruang kelas dan siswa, sehingga dapat menunjang
kegiatan pembelajaran yang memungkinkan, hal-hal berikut :
1. Aksebilitas : Peserta didik mudah menjangkau sumber belajar yang tersedia.
2. Mobilitas : Memudahkan siswa untuk menjangkau bagian-bagian kelas.
3. Interaksi : Memudahkan interaksi guru dan peserta didik maupun antar
peserta didik .
4. Variasi Kerja Peserta Didik : memungkinkan peserta didik bekerja secara,
perorangan, berpasangan , ataupun kelompok.
5. Aktivitas : suatu proses kegiatan yang meliputi kegiatan yang bersifat fisik
maupun mental.dimana menurut Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007)
aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok.
6. Kreativitas : suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan
(fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Munandar, 1977).
7. Bimbingan : Kegiatan bimbingan ini dilakukan oleh guru, dimana guru akan
meberikan bimbingan baik secara individu maupun secara klasikal selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung.
1. Aksebilitas : Peserta didik mudah menjangkau sumber belajar yang tersedia.
2. Mobilitas : Memudahkan siswa untuk menjangkau bagian-bagian kelas.
3. Interaksi : Memudahkan interaksi guru dan peserta didik maupun antar
peserta didik .
4. Variasi Kerja Peserta Didik : memungkinkan peserta didik bekerja secara,
perorangan, berpasangan , ataupun kelompok.
5. Aktivitas : suatu proses kegiatan yang meliputi kegiatan yang bersifat fisik
maupun mental.dimana menurut Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007)
aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok.
6. Kreativitas : suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan
(fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Munandar, 1977).
7. Bimbingan : Kegiatan bimbingan ini dilakukan oleh guru, dimana guru akan
meberikan bimbingan baik secara individu maupun secara klasikal selama
kegiatan belajar mengajar berlangsung.
B. Catatan Tambahan
*
Dalam Penerapan Strategi PIKAT, kegiatan Bimbingan Guru terus dilakukan
dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran.
*
Dalam Penerapan Strategi PIKAT, mengandung atau dijiwai oleh pendekatan
Kontekstual, sehingga guru dalam melaksanakan sintak tersebut sudah menerapkan
pendekatan kontekstual sebagai basis dalam pelaksanaan pembelajaran.
* Pembahasan selengkapnya dapat dilihat di Tesis FX. Didik Purwosetiyono
( S2 UNNES 2010 )
* Pembahasan selengkapnya dapat dilihat di Tesis FX. Didik Purwosetiyono
( S2 UNNES 2010 )
Langganan:
Postingan (Atom)




