Minggu, 11 November 2012

Karakter Budaya Jawa dalam Tembang yang Menginspirasi


Sebuah tembang dapat menjadikan suatu inspirasi yang positif terhadap seseorang yang menghayatinya. Banyak sekali budaya lama yang kita lupakan, ajaran nenek moyang kita yang penuh nasehat yang baik bagi dasar atau pandangan hidup yang positif yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya kita tidak boleh  melupakan dasar hidup yang sejati yaitu kitab suci.


Ketika kecil saya diajarkan beberapa lagu jawa oleh kakek saya. Saya sangat seneng waktu itu, mempelajari tembang jawa, walaupun saya tidak tahu secara dalam arti yang terkandung didalam tembang jawa tersebut.
Begini tembang jowo itu, sebut saja "Tembang Mijil"


Dedalane guno lawan sekti
kudu andap asor
wani ngalah, luhur wekasane
Tumungkulo, ten dipun dukani
bapang den simpangi
ono catur mungkur

Penggalan lagu tersebut sangat menginspirasi saya. Dalam perjalanan hidup saya, dalam menghadapi dan menyikapi sebuah permasalahan, mengajak saya untuk lebih bersabar, lebih berhati hati dalam bertindak. Namun dibalik itu semua kita harus memiliki spirit yang kuat, dalam menggapai tujuan yang hendak kita capai.

Dengan demikian kita tidak boleh melupakan kebudayaan kita yang positif, yang dapat memberikan inspirasi kepada kita, tentang bagaimana kita menyikapi kehidupan ini agar lebih arif dan bijaksana. Itulah karakter budaya kita yang harus tetap di pertahankan.


didiketernity.blogspot.com
thanks for  Eyang C. Masrin  family

Rabu, 13 Juni 2012

MATERI EVALUASI DAN HP MATEMATIKA
 Tentang Mengubah Skor Menjadi Nilai Huruf ABCDE ( Skala 5 )

Materi Bisa DIUNDUH di link berikut :

Kamis, 10 Mei 2012

IQ, EQ, SQ, and AQ


 IQ, EQ, AND SQ
Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar.
Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan. Stenberg& Slater (1982) mendefinisikannya sebagai tindakan atau pemikiran yang bertujuan dan adaptif.
Saat ini cukup popular tentang tiga kecerdasan manusia, yaitu Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional, dan Kecerdasan Spiritual. Tapi Kecerdasan Adversitas? Dalam buku sumber yang penulis gunakan sebagai rujukan tulisan ini –buku yang didapatkan dari seorang sahabat penulis yang baik hati, Bapak Kusmayanto Kadiman, terdapat banyak sekali wawasan dan pemahaman baru yang sangat menarik untuk dinikmati.
Intellgence Quotient (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbicara, kesadaran akan ruang, kesadaran akan sesuatu yang tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berpikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan permasalahan dan menerapkan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Jika IQ kita tinggi, kita memiliki modal yang sangat baik untuk lulus dari semua jenis ujian dengan gemilang, dan meraih nilai yang tinggi dalam uji IQ.
Emosional Quotient (EQ) mempunyai dua arah dan dua dimensi, arah ke dalam (personal) berarti sebuah kesadaran diri (self awareness), penerimaan diri (self acceptance), dan hormat diri (self respect), dan penguasaan diri (self mastery) dan arah keluar (interpersonal) berarti kemampuan memahami orang (to understand others), menerima orang (to accept others), mempercayai orang (to trust others), dan mempengaruhi orang (to influence others).
Spiritual Quotient (SQ) intinya adalah transendensi, yaitu proses penyeberangan, pelampauan, penembusan makna yang lazim, khususnya dari wilayah material ke wilayah spiritual, dan dari bentuk yang kasar ke bentuk yang sublime. Dalam hal ini hidup bukan semata-mata untuk memperoleh materi semata akan tetapi harus betul-betul dihayati sebagai serangkaian amal bagi sesama manusia dan beribadah kepada Tuhan. Sehingga tidak cukup jika kita hanya mengandalkan kecerdasan intelegensi dan emosional saja. Mempertebal iman dan taqwa kita akan membangun budi dan akhlak mulia sehingga segala sesuatu yang kita lakukan semata-mata mohon perkenan dan ridho Tuhan, sehingga apa yang kita kerjakan akan terasa bermakna, nikmat, dan kita lakukan penuh dengan suka cita, tanpa keterpaksaan belaka.
Nah, yang terakhir adalah  Adversitas Quotient (AQ), pernah dengar? Menurut kamus adversity berarti kemalangan, kesulitan, dan penderitaan. AQ disini adalah kecerdasan kita pada saat menghadapi segala kesulitan tersebut. Beberapa orang mencoba untuk tetap bertahan menghadapinya, sebagian lagi mudah takluk dan menyerah. Dengan demikian kecerdasan adversitas adalah sebuah daya kecerdasan budi-akhlak-iman manusia menundukkan tantangan-tantangannya, menekuk kesulitan-kesulitannya, dan meringkus masalah-masalahnya sekaligus mengambil keuntungan dari kemenangan-kemenangan itu.
Ingin sukses dan berhasil? Cukup cerdaskah saya, anda, kita?
Kondisi Otak berdasarkan IQ, EQ, SQ

JOURNAL "PIKAT" (FX Didik Purwosetiyono)

http://e-jurnal.ikippgrismg.ac.id/index.php/aksioma/article/view/48

BANDUNG WITH FAMILY

Holiday in Bandung with Family and girlfriend

With Family

Me and Fico

Very Cool "Cease"


PATERN OF STUDENT CREATIVITY

Tangram Bujur Sangkar

PENDAHULUAN
Dalam proses pembelajaran matematika di sekolah terdapat beberapa permasalahan. Terkait dengan karakteristik matematika, objeknya yang abstrak, konsep dan prinsipnya berjenjang, dan prosedur  pengerjaannya yang banyak memanipulasi bentuk-bentuk membuat siswa seringkali mengalami kesulitan. Hal ini menuntut peraga yang tepat, yang mampu membantu siswa memahami konsep yang diajarkan dan mampu mengatasi keberagaman kecepatan belajar dan gaya belajar siswa, serta mengatasi keterbatasan yang ada pada guru. 
Menurut Sierwalds ( dalam Davasligil, 2005 ) dalam belajar jangka panjang, kreativitas seorang pelajar lebih tinggi dari pada seseorang yang tidak bersekolah. Kegiatan belajar mengajar diperlukan suatu proses pada diri siswa untuk mencoba, dan melakukan analisis pada suatu obyek. Dengan adanya suatu usaha dalam proses diharapkan siswa dapat menunjukkan perubahan hasil belajarnya menjadi lebih baik, pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotoriknya. Sehingga diperlukan suatu usaha yang melibatkan siswa aktif, yang nampak dari aktivitas yang harus diperhatikan, sehingga akan menunjukkan suatu perubahan hasil belajar yang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh efektifitas dalam pembelajaran.
Pentingnya suatu penggunaan strategi pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga perlunya adanya suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Salah satu strategi yang sesuai yaitu  Pembelajaran patern of student creativity yang dapat memberikan pembelajaran bermakna dan efektif bagi siswa, serta dapat mengembangkan aktivitas dan kreativitas siswa, dengan bimbingan guru sehingga hasil belajar siswa akan lebih baik dan optimal.

STRATEGI PATERN STUDENT OF CREATIVITY

Adapun tahapan strategi patern of student creativity adalah sebagai berikut :
1)   Interaksi  : Memudahkan interaksi guru dan peserta didik maupun antar peserta 
     didik
2)   VariasiKerjaPesertaDidik  :memungkinkanpesertadidikbekerjasecara, perorangan, 
      berpasangan , ataupunkelompok.
3)   Aktivitas :suatu proses kegiatan yang meliputi kegiatan yang bersifat fisik 
     maupun mental.dimana menurut Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007) 
     aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok.
4)   Kreativitas:suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan 
     (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Munandar, 1977).
5)   Bimbingan : Kegiatan bimbingan ini dilakukan oleh guru, dimana guru 
     akan meberikan bimbingan baik secara individu maupun secara klasikal 
     selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

PENUTUP

Dengan lembar kreativitas ini diharapkan, guru mampu menciptakan suatu suasana pembelajaran yang terdapat kreativitas, dan dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar bagi siswa dan menghilangkan kejemuan saat belajar matematika. Juga sebagai motivasi meningkatkan kemampuan yang bervariasi yang dapat juga dugunakan sebagai media atau alat peraga bantu, dimana pembelajaran tidak lagi secara buku teks saja tetapi lebih kearah media yang penuh kreativitas yang dilengkapi dengan gambar dan format yang jelas serta mengandung pola-pola kreativitas.

Tangram Hati

"PIKAT" STRATEGY

        
       From : Tesis FX. Didik Purwosetiyono, S.Pd., M.Pd.
       by : Frans X Didik Eternity
       
A.   Tahapan Penerapan Strategi PIKAT/ Sintaks Strategi PIKAT ( Pembelajaran Inkuiri Kreatif Aktif Terbimbing )
Lebih menekankan pada strategi pengaturan ruang kelas dan siswa, sehingga dapat menunjang 
kegiatan pembelajaran yang memungkinkan, hal-hal berikut :
1.     Aksebilitas : Peserta didik mudah menjangkau sumber belajar yang tersedia.
2.     Mobilitas  : Memudahkan siswa untuk menjangkau bagian-bagian kelas.
3.     Interaksi  : Memudahkan interaksi guru dan peserta didik maupun antar 
      peserta didik .
4.     Variasi Kerja Peserta Didik  : memungkinkan peserta didik bekerja secara, 
      perorangan, berpasangan , ataupun kelompok.
5.     Aktivitas  : suatu proses kegiatan yang meliputi kegiatan yang bersifat fisik 
      maupun mental.dimana menurut Paul B. Diedrich (dalam Sardiman, 2007) 
      aktivitas siswa dalam belajar digolongkan atas 8 kelompok.
6.     Kreativitas : suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan 
      (fleksibilitas) dan originalitas dalam berfiir (Munandar, 1977).
7.     Bimbingan : Kegiatan bimbingan ini dilakukan oleh guru, dimana guru akan 
      meberikan bimbingan baik secara individu maupun secara klasikal selama 
      kegiatan belajar mengajar berlangsung.

B.    Catatan Tambahan
* Dalam Penerapan Strategi PIKAT, kegiatan Bimbingan Guru terus dilakukan dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran.

* Dalam Penerapan Strategi PIKAT, mengandung atau dijiwai oleh pendekatan Kontekstual, sehingga guru dalam melaksanakan sintak tersebut sudah menerapkan pendekatan kontekstual sebagai basis dalam pelaksanaan pembelajaran.


* Pembahasan selengkapnya dapat dilihat di Tesis FX. Didik Purwosetiyono 
   ( S2 UNNES 2010 )